Ekonomi memang selalu menjadi
masalah utama dalam kehidupan manusia. Aku pernah mengalami pengalaman yang
sangat berat tentang hal ekonomi. Setelah 16 tahun bersama, keluarga baru
mengalami pengalaman pahit ini.
Pagi hari aku dan
adikku, Niva, sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, tidak seperti biasa, aku
menaruh sepatu di teras belakang rumahku, biasanya aku menaruh sepatu di rak
sepatu kamarku, baru kemarin aku menaruh sepatuku di teras, karena kemarin aku
capek membawanya ke kamar, padahal aku dan sepatu satu arah, sama-sama hendak
ke kamar. Dan pagi ini aku terpaksa mengambilnya di teras belakang. Ketika aku
menuju teras belakang, langkah terhenti di depan kamar mama dan papa, aku
mendengar pembicaraan yang sangat serius di sana, karena penasaran jadi aku
menghentikan langkaku. “ Kenapa ini bisa terjadi pa? Gimana caranya kita bisa
hidup jika kehidupan kita seperti itu? Mama gak tega untuk memberitahukan hal
ini ke anak-anak?” terdengar suara mama yang terbat-bata karena diselang
tangisan. “ Mama tenang dulu, papa tahu ini bakalan bikin mereka tertekan, tapi
papa akan usahakan, agar kita tidak mengalami hal itu?” lanjut papa. Mendengar
pembicaraan papa dan mama aku semakin penasaran apa yang sedang terjadi, kenapa
papa dan mama begitu serius membicarakan hal itu? Segenap aku melihat arlojiku,
waktu sudah menunjukkan jarum panjang ke angka 5 dan jarum pendek ke angka 6.
Aku terhentak kaget melihatnya, aku segera berlari ke teras belakang, dan
segera memakai sepatu, dan terus berlari ke teras depan. Sesampai di teras
depan aku melihat seseorang yang familiar bagi ku telah membukakan pintu mobil
untukku. “ makasih pak? J” ucapku
sambil melemparkan senyum simpel kepada pak Anto, supir pribadi
keluargaku. Pak Anto langsung menutup
pintu mobil, berjalan menuju bagian supir, dan segera menancap gas menuju ke
sekolahku dan Niva.
Sesampainya
disekolah , aku langsung berjalan menuju kelas, tiba-tiba aku teringat
pembicaraan mama dan papa tadi sebelum aku pergi sekolah. Karena berjalan
sambil melamun aku tidak terlalu konsen dengan jalan, tiba-tiba aku tersentak
kaget, ada yang memanggilku dibelakang, “Kelly???” teriak seseorang, aku
langsung menoleh ke asal suara. Bener yang aku tebak, Reylah yang memanggil,ia
adalah sahabat karibku dari SMP. Ia melemparkan senyumnya kepadaku, aku pun
begitu. “ kok musem gitu sih, ayoo ada masalah ya? Cerita dong kalau gitu?”
beberapa prtanyaan yg selalu dia tanyakan kalau aku sedang bermuka musem. “ gak
ada apa-apa kok?”, kataku dengan sedikit berbohong, “ bohong? Aku tau kamu tu
kayak mana? Dah cerita aja, ngapain malu?” katanya. Aku terpaksa membicarakan
semua yang tadi aku dengar. Dengan ekspresi kaget dia langsung memberikan
solusi-solusi handalnya, memang selama aku punya masalah, ia selalu memberikan
solusi yang selalu berhasil buatku, tiba-tiba bel tanda masuk pun berbunyi.
Kami berdua langsung berlari menuju kelas karena pelajaran pagi hari ini dimulai
oleh guru kiler di sekolah kami. Selama pelajaran berlangsung, aku tidak
terlalu fokus, aku selalu teringat perkataan yang dibicarakan oleh papa dan
mama tadi pagi. Bel pun berbunyi tanda waktu pulang sekolah pun tiba. Aku
tersentak kaget dari lamunanku, dan bersiap untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di
parkiran sekolah, aku melihat sebuah mobil yang tak asing bagiku, aku langsung
memasuki mobil itu dan langsung menancap gas menuju rumah. Sesampainya dirumah
aku membuka sepatuku dan langsung berjalan menuju kamarku, tetapi langkah
terhenti di ruang keluarga ketika melihat mama dan Niva yang sedang dipeluk
oleh mama, aku melihat tetesan air mata yang keluar dari kedua bola mata
mereka. Karena penasaran aku menghampiri mereka. “mama kok nangis? Apa yang terjadi?”
tanyaku mengharap jawaban dari mereka, “ kak? Perusahaan papa akan bangkrut?
Kalau kita tidak melunasi hutang-hutang di Bank, rumah ini akan di sita?” kata
Niva sambil terus menangis. “ kok bisa? Terus kenapa harus harus kita yang
melunasi hutang-hutang itu? Kitakan tidak pernah meminjam uang ke Bank?”
tanyaku dengan sedikit emosi. “ ini karena gaji papamu yang mengalami
penurunan! Kamu tidak tahu, sebenarnya 1 tahun belakangan ini kami meminjam
uang ke Bank, unuk menutupi semua keperluan kita!” jawab mama. Aku terdiam dan
tidak tahu harus bagaimana lagi! Perlahan air mataku memebasahi pipiku. Itu
pengalaman ku yang sangat menyakitkan.