Selasa, 05 Februari 2013

Kehancuran yang disebabkan Krisis Ekonomi



Ekonomi memang selalu menjadi masalah utama dalam kehidupan manusia. Aku pernah mengalami pengalaman yang sangat berat tentang hal ekonomi. Setelah 16 tahun bersama, keluarga baru mengalami pengalaman pahit ini.
        Pagi hari aku dan adikku, Niva, sedang bersiap untuk pergi ke sekolah, tidak seperti biasa, aku menaruh sepatu di teras belakang rumahku, biasanya aku menaruh sepatu di rak sepatu kamarku, baru kemarin aku menaruh sepatuku di teras, karena kemarin aku capek membawanya ke kamar, padahal aku dan sepatu satu arah, sama-sama hendak ke kamar. Dan pagi ini aku terpaksa mengambilnya di teras belakang. Ketika aku menuju teras belakang, langkah terhenti di depan kamar mama dan papa, aku mendengar pembicaraan yang sangat serius di sana, karena penasaran jadi aku menghentikan langkaku. “ Kenapa ini bisa terjadi pa? Gimana caranya kita bisa hidup jika kehidupan kita seperti itu? Mama gak tega untuk memberitahukan hal ini ke anak-anak?” terdengar suara mama yang terbat-bata karena diselang tangisan. “ Mama tenang dulu, papa tahu ini bakalan bikin mereka tertekan, tapi papa akan usahakan, agar kita tidak mengalami hal itu?” lanjut papa. Mendengar pembicaraan papa dan mama aku semakin penasaran apa yang sedang terjadi, kenapa papa dan mama begitu serius membicarakan hal itu? Segenap aku melihat arlojiku, waktu sudah menunjukkan jarum panjang ke angka 5 dan jarum pendek ke angka 6. Aku terhentak kaget melihatnya, aku segera berlari ke teras belakang, dan segera memakai sepatu, dan terus berlari ke teras depan. Sesampai di teras depan aku melihat seseorang yang familiar bagi ku telah membukakan pintu mobil untukku. “ makasih pak? J” ucapku sambil melemparkan senyum simpel kepada pak Anto, supir pribadi keluargaku.  Pak Anto langsung menutup pintu mobil, berjalan menuju bagian supir, dan segera menancap gas menuju ke sekolahku dan Niva.
        Sesampainya disekolah , aku langsung berjalan menuju kelas, tiba-tiba aku teringat pembicaraan mama dan papa tadi sebelum aku pergi sekolah. Karena berjalan sambil melamun aku tidak terlalu konsen dengan jalan, tiba-tiba aku tersentak kaget, ada yang memanggilku dibelakang, “Kelly???” teriak seseorang, aku langsung menoleh ke asal suara. Bener yang aku tebak, Reylah yang memanggil,ia adalah sahabat karibku dari SMP. Ia melemparkan senyumnya kepadaku, aku pun begitu. “ kok musem gitu sih, ayoo ada masalah ya? Cerita dong kalau gitu?” beberapa prtanyaan yg selalu dia tanyakan kalau aku sedang bermuka musem. “ gak ada apa-apa kok?”, kataku dengan sedikit berbohong, “ bohong? Aku tau kamu tu kayak mana? Dah cerita aja, ngapain malu?” katanya. Aku terpaksa membicarakan semua yang tadi aku dengar. Dengan ekspresi kaget dia langsung memberikan solusi-solusi handalnya, memang selama aku punya masalah, ia selalu memberikan solusi yang selalu berhasil buatku, tiba-tiba bel tanda masuk pun berbunyi. Kami berdua langsung berlari menuju kelas karena pelajaran pagi hari ini dimulai oleh guru kiler di sekolah kami. Selama pelajaran berlangsung, aku tidak terlalu fokus, aku selalu teringat perkataan yang dibicarakan oleh papa dan mama tadi pagi. Bel pun berbunyi tanda waktu pulang sekolah pun tiba. Aku tersentak kaget dari lamunanku, dan bersiap untuk pulang ke rumah.
        Sesampainya di parkiran sekolah, aku melihat sebuah mobil yang tak asing bagiku, aku langsung memasuki mobil itu dan langsung menancap gas menuju rumah. Sesampainya dirumah aku membuka sepatuku dan langsung berjalan menuju kamarku, tetapi langkah terhenti di ruang keluarga ketika melihat mama dan Niva yang sedang dipeluk oleh mama, aku melihat tetesan air mata yang keluar dari kedua bola mata mereka. Karena penasaran aku menghampiri mereka. “mama kok nangis? Apa yang terjadi?” tanyaku mengharap jawaban dari mereka, “ kak? Perusahaan papa akan bangkrut? Kalau kita tidak melunasi hutang-hutang di Bank, rumah ini akan di sita?” kata Niva sambil terus menangis. “ kok bisa? Terus kenapa harus harus kita yang melunasi hutang-hutang itu? Kitakan tidak pernah meminjam uang ke Bank?” tanyaku dengan sedikit emosi. “ ini karena gaji papamu yang mengalami penurunan! Kamu tidak tahu, sebenarnya 1 tahun belakangan ini kami meminjam uang ke Bank, unuk menutupi semua keperluan kita!” jawab mama. Aku terdiam dan tidak tahu harus bagaimana lagi! Perlahan air mataku memebasahi pipiku. Itu pengalaman ku yang sangat menyakitkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar